KompasKompasKepak Sayap Garuda Indonesia
Kepak Sayap
Garuda Indonesia
Ik ben Garuda/ Vishnoe's vogel/ die zijn vleugels uitslaat hoog boven uw eilanden/ Aku adalah Garuda/ burung milik Wisnu/ yang membentangkan sayapnya menjulang tinggi di atas kepulauanmu/
Foto Ilustrasi - Heru Sri Kumoro dan Lasti Kurnia

S ajak karya Raden Mas Noto Soeroto dilantunkan oleh Bung Karno saat dimintai pendapatnya untuk menamai sebuah pesawat DC-3 yang akan menerbangkannya dari Yogyakarta menuju Jakarta.

Garuda. Itulah akhirnya nama yang disematkan oleh Bung Karno bagi pesawat DC-3 registrasi PK-DPD milik KLM Interinsulair yang mengangkasa pada 28 Desember 1949 dari Yogyakarta menuju Jakarta. Bung Karno pula yang menjadi penumpang spesial DC-3 tersebut untuk menghadiri upacara pelantikannya sebagai Presiden Republik Indonesia Serikat (RIS).

Garuda. Itulah akhirnya nama yang disematkan Bung Karno bagi pesawat DC-3 registrasi PK-DPD

Namun, sejarah penerbangan oleh putra Indonesia telah dimulai sebelum 28 Desember 1949. Pada 26 Januari 1949, para anggota AURI telah menerbangkan Dakota RI-001 dari Kolkata ke Rangoon. Hasil dari penerbangan komersial itu untuk membiayai pendidikan 20 kadet udara di India.

Beberapa pihak kemudian menganggap penerbangan pada 26 Januari 1949 tersebut menandai hari jadi ”Indonesia Airways”, bahkan menetapkannya sebagai hari lahir Garuda Indonesia.

Di sisi lain, NV Garuda Indonesia didirikan pada 31 Maret 1950 dengan Akta Notaris R Kadiman Nomor 137. Jangan heran bila ada yang bersikeras bila ulang tahun Garuda lebih tepat diperingati pada 31 Maret. Masing-masing kubu bahkan pernah berargumen mempertahankan pendiriannya di Kompas sekitar akhir 1970-an.

Melayani Rakyat

T erlepas dari segala perdebatan menyangkut hari lahir Garuda, selama puluhan tahun kemudian maskapai Garuda Indonesia Airways tetap setia melayani penduduk negeri ini. Melayani penerbangan domestik hingga melayani penerbangan menuju negara-negara tetangga, bahkan hingga Eropa dan Amerika.

Pada Kompas edisi Rabu, 8 November 1989, wartawan Kompas Threes Nio, melaporkan, ketika itu Garuda telah menjelma menjadi salah satu perusahaan penerbangan terbesar di Asia Pasifik.

Tahun 1989, Garuda telah menerbangkan 79 pesawat jet. Ketika itu, Garuda juga telah merencanakan ekspansi dengan membeli 62 pesawat baru dengan biaya 3,5 miliar dollar AS.

Rute Jakarta-Los Angeles, yang sebelumnya dilayani tiga kali dalam seminggu, ditambah frekuensinya menjadi empat kali penerbangan dalam seminggu mulai Desember 1989.

IPPHOS/Dok Kompas
Pesawat DC-3 bernomor registrasi RI-001 berada di Kemayoran, Jakarta, tanggal 17 Agustus 1950. Ini merupakan pesawat pertama Indonesian Airways, cikal bakal dari perusahaan penerbangan Garuda Indonesia.

Meski demikian, sebagaimana halnya perjalanan kehidupan di negeri ini, maskapai Garuda juga pernah mengalami masa pasang surut. Ada kalanya Garuda begitu terpuruk sehingga kesulitan keuangan dan harus menutup beberapa rute penerbangannya.

Sekali waktu, Garuda bahkan dilarang terbang ke Eropa. Butuh waktu, lobi, dan serangkaian ujian sebelum Garuda dinyatakan boleh terbang lagi menuju benua tersebut.

Badai kini telah berlalu. Pengakuan terhadap Garuda kini muncul bak cendawan di musim hujan, tidak hanya pengakuan dari institusi di dalam negeri, tetapi juga dari luar negeri. Garuda ternyata juga semakin dicintai oleh para pelanggan dan penumpangnya.

Hari Kamis (8/12/2016) lalu, maskapai Garuda Indonesia pun meraih penghargaan ”The Most Loved Airline". Menjadi maskapai yang baik tentu saja sudah sebuah capaian yang luar biasa, apalagi menjadi maskapai yang paling dicintai—yang tentu merupakan capaian luar biasa.

Penghargaan tersebut diserahkan oleh CEO SkyTrax Edward Plaisted kepada Direktur Utama Garuda Indonesia M Arif Wibowo di Gedung Manajemen Garuda Indonesia, Cengkareng, Banten.

Kompas/Dudy Sudibyo
Direktur Utama Garuda Indonesia Airways Wiweko Supono mendaratkan pesawat Airbus A300 Garuda yang pertama di Bandar Udara Halim Perdanakusuma, Rabu 20 Januari 1982, dari pabriknya di Toulouse, Perancis. Pesawat itu sekaligus merupakan yang pertama di dunia dilengkapi Forward Facing Crew Cockpit (FFCC).

Menurut Edward Plaisted, Garuda berhasil menempati peringkat pertama sebagai maskapai yang paling dicintai di dunia dengan tingkat kepuasan pelanggan sebesar 85 persen. Sebanyak 4,5 juta responden terlibat dalam survei SkyTrax yang menilai lebih dari 420 maskapai dunia.

”Penghargaan yang kami peroleh ini tentunya sangat membanggakan bagi kami, tetapi sekaligus juga merupakan tantangan bagi kami untuk terus memberikan layanan terbaik secara konsisten sehingga dapat memberikan kenyamanan lebih bagi para pengguna jasa kami,” kata Arif.

Survei atas ”The Most Loved Airline” dilakukan dengan serius, bahkan mengikutsertakan delapan kategori, yakni kenyamanan tempat duduk, pelayanan pada saat terbang, makanan yang disediakan, hiburan yang diberikan, ketersediaan WiFi, pelayanan maskapai di bandara, hingga harga tiket.

Membaiknya kondisi Garuda yang disertai berbagai pengakuan akhirnya mendorong rencana ekspansi Garuda Indonesia. Maskapai Garuda bahkan berencana terbang kembali ke Amerika pada 2017. Terlebih lagi setelah Badan Penerbangan Federal AS (FAA) pada Agustus 2016 telah menaikkan status Indonesia menjadi kategori 1 sehingga dapat terbang ke Amerika.

Diperkirakan, penerbangan Garuda ke Amerika akan transit di Tokyo, Jepang. Dengan demikian, setidaknya Garuda dapat terlebih dahulu mengangkut penumpang ke Tokyo, yang telah dilakoninya selama bertahun-tahun. Rute ini juga dinilai lebih menguntungkan daripada transit di Biak atau Honolulu seperti pada masa silam.

Sebelum terbang ke Amerika, Garuda Indonesia telah pula terbang ke Eropa setelah dicabutnya pelarangan terbang menuju benua itu. Pada Jumat (30/5/2014), Garuda bahkan meresmikan pembukaan rute penerbangan langsung dari Jakarta ke Amsterdam sebanyak lima kali seminggu dengan pesawat terbaru Boeing 777-300ER berkapasitas 314 penumpang.

Sejak Maret 2016, maskapai Garuda juga memulai penerbangan ke Bandara Heathrow, London, untuk memperkuat penetrasinya di Eropa. Sebelumnya, sejak September 2014 Garuda Indonesia terbang ke London melalui Bandara Gatwick. Heathrow akhirnya dipilih karena kesempatan transit penerbangan yang lebih besar.

Rute Domestik Garuda
sumber : https://www.garuda-indonesia.com
Memaksimalkan Keselamatan

P enerbangan Garuda ke Eropa, dan rencana penerbangan ke Amerika, diimbuhi dengan makin tingginya animo terbang para pelanggan Garuda telah mengisyaratkan kepercayaan terhadap keselamatan dan keamanan terbang Garuda.

Pilot Abdul Rozak, dan kopilot Gunawan, berhasil mendaratkan GA 421 yang kedua mesinnya mati, di Bengawan Solo

Meski selama sepanjang hidup Garuda sebagai sebuah maskapai penerbangan, tentu Garuda tidak luput dari insiden. Hadirnya insiden dalam dunia penerbangan jelas tak terelakkan sekalipun maskapai-maskapai itu berasal dari negara maju dengan tingkat keselamatan yang sudah baik.

Rabu (7/3/2007), misalnya, dunia penerbangan nasional terkejut saat Boeing 737-400 Garuda dengan nomor penerbangan GA200 mengalami kecelakaan di Bandar Udara Adisutjipto, Yogyakarta.

Kecelakaan itu mengejutkan karena terjadi setelah selama sepuluh tahun sebelumnya tidak ada satu kecelakaan fatal yang dialami Garuda. Terakhir kali, Garuda mengalami kecelakaan pada 26 September 1997.

Pada September 1997, pesawat Garuda jenis Airbus A300-B4 jatuh di dataran tinggi Buah Nabar, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, saat akan mendarat di Bandara Polonia, Medan. Kecelakaan tersebut mengakibatkan 234 orang tewas.

Namun, jangan dilupakan pula adanya individu-individu luar biasa di Garuda yang berhasil menerbangkan penumpang dengan selamat hingga tujuan. Ada jutaan jam terbang yang dilalui tanpa insiden berarti. Kehadiran mereka, para pegawai Garuda Indonesia, perlu dikenang dan dihargai karena risiko kecelakaan selalu akan membayangi bisnis transportasi.

Kompas/Dudy Sudibyo
Garuda Indonesia Airways kembali menghidangkan makanan kecil, minuman dan permen dalam penerbangannya. Sebelumnya, selain hidangan dan minuman pada jalur tertentu, permen pun tidak dibagikan kepada penumpang. Foto ini dimuat di harian Kompas, Sabtu 24 November 1984.

Pada Kompas, Jumat, 24 September 1965, misalnya, menurunkan artikel dengan judul ”Garuda Gemparkan Lap Terbang Bangkok” di halaman 3. Dalam artikel itu dikisahkan suksesnya pendaratan darurat pesawat Convair 990 Garuda di Bandara Don Muang, Bangkok, yang dipiloti Capt Kusdjinatin.

Aksi pendaratan oleh Capt Kusdjinatin dinilai menggemparkan karena berhasil mendarat dengan selamat tanpa roda pendaratan sisi kanan yang meledak saat lepas landas. ”Kami berdoa kepada Tuhan untuk menghadapi tugas yang berbahaya itu,” ujar Capt Kusdjinatin seperti dikutip Kompas.

Pada Rabu (16/1/2002), pilot Garuda, Abdul Rozak, dan kopilot, Gunawan, berhasil mendaratkan GA 421 yang kedua mesinnya mati di Sungai Bengawan Solo, Desa Serenan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Pesawat Garuda rute Ampenan (Mataram)-Yogyakarta-Jakarta tersebut dapat didaratkan di sungai sehingga tidak mengalami kerugian terlalu besar. Dalam kecelakaan tersebut, 54 orang selamat, termasuk lima awak pesawat, kecuali seorang pramugari, Santi Anggraeni (25), yang ditemukan tewas tenggelam di sungai (Kompas, Kamis, 17 Januari 2002).

Dari waktu ke waktu, Garuda terus menyempurnakan diri dalam hal keselamatan. Ribuan mungkin puluhan ribu jam pelatihan telah dijalani untuk memaksimalkan keselamatan penerbangan dan demi keselamatan penumpang.

Pernah Terpuruk

D ulu, ada masanya ketika Garuda pernah terpuruk. Ini diakui sendiri oleh Direktur Utama Garuda Indonesia (2005-2014) Emirsyah Satar, saat diminta untuk memimpin Garuda Indonesia pada bulan Maret 2005. Ketika itu, kata Emir, maskapai Garuda berada pada titik nadir. Maskapai Garuda juga tidak berada dalam radar penerbangan Asia.

Selama bertahun-tahun, Garuda pun berupaya untuk memperbaiki diri. Hingga pada bulan Maret 2012, Garuda meraih penghargaan The Best International Airline dari Roy Morgan, sebuah lembaga riset independen asal Australia.

Setelah itu, pada pertengahan bulan Juli 2012, Garuda juga menerima penghargaan sebagai The World's Best Regional Airline dari Skytrax. Pengakuan dari dunia internasional kemudian datang bertubi-tubi.

Kompas/LUCKY PRANSISKA
CEO Skytrax, Edward Plaisted (kanan) menyerahkan penghargaan kepada Direktur Utama Garuda Indonesia, Arif Wibowo (kiri) di arena Paris Air Show 2015 di Le Bourget, Perancis, Selasa (16/6). Penghargaan diberikan kepada Garuda sebagai maskapai dengan awak kabin terbaik dunia. Pengahgaan dihadiri Menteri BUMN, Rini M Soemarno.

Tidak hanya diakui dalam hal pelayanan, masa depan Garuda Indonesia tecermin dari kesuksesan penawaran saham perdana Garuda Indonesia pada 11 Februari 2011. Ketika itu, Garuda berhasil meraup dana Rp 3,3 triliun dari publik.

Salam Garuda sebagai refleksi dari keramahtamahan bangsa ini

Tanri Abeng, mantan Menteri Negara Pendayagunaan BUMN di dalam buku From One Dollar To Billion Dollars Company: Kisah Transformasi di Garuda Indonesia (2014) bahkan mengatakan, ”Saya gembira menyaksikan keberhasilan Garuda mencatatkan 1,8 miliar dollar AS di Bursa Efek Indonesia. Padahal, saya tahu betul pada tahun 1998, nilai Garuda tak mencapai satu dollar Amerika.”

Namun dalam perkembangannya, hari Kamis (19/1/2017), justru Emirsyah Satar ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Emirsyah diduga menerima suap senilai sekitar Rp 20 miliar dalam bentuk dollar Amerika Serikat dan euro.

Vice President Corporate Communication PT Garuda Indonesia Tbk Benny Butarbutar mendukung langkah KPK dan menyatakan bahwa Garuda bersikap kooperatif serta menyatakan kasus ini merupakan tindakan pribadi.

”Kami akan melakukan evaluasi terkait mekanisme kontrak pengadaan mesin pesawat Airbus untuk memastikan tidak ada kesalahan dalam pemilihan mesin pesawat yang telah dijalankan,” ujar Benny. (Kompas, Jumat, 20 Januari 2017).

Ekspansi Garuda

Begitu Garuda semakin sehat, maskapai tersebut mampu melebarkan sayapnya. Mulai 12 Desember 2016, misalnya, Garuda Indonesia memulai penerbangan ke Mumbai, India, melalui Bangkok, Thailand.

Penerbangan ke India tersebut bertujuan untuk meningkatkan jumlah turis India yang datang ke Indonesia. Sejauh ini, setiap tahun baru sebanyak 300.000 turis dari India yang berkunjung ke Indonesia, terutama ke Pulau Bali,

Sebagai langkah awal, Garuda Indonesia terbang dengan pesawat Boeing 737-800 NG berkapasitas 156 penumpang sebanyak tiga kali dalam seminggu. Meski maskapai lain selama ini dapat menerbangkan penumpang dari India menuju Indonesia, kehadiran Garuda dinilai baik.

Kompas/LUCKY PRANSISKA
Gambar pesawat Garuda Indonesia DC 10 dengan logo lama yang beroperasi tahun 1976-2004 dan pesawat Garuda Indonesia Boeing 777-300ER dengan logo terbaru yang parkir di hanggar Garuda Indonesia, Jumat 24 April 2015.

Kini, ketika pariwisata menjadi salah satu potensi penggerak perekonomian yang belum digarap, adalah sebuah kabar baik ketika Garuda mulai melayani penerbangan langsung menuju destinasi-destinasi wisata.

Tentu saja, peran untuk memajukan dunia pariwisata tidak hanya tertumpu di Garuda Indonesia. Juga ada begitu banyak maskapai di negeri ini. Akan tetapi, dari sejarahnya kita memahami bahwa Garuda adalah maskapai nasional. Garuda adalah kita.

Kabar baik makin terdengar ketika pada Oktober 2016, misalnya, Garuda Indonesia melayani penerbangan langsung dari Jakarta ke Labuan Bajo, Pulau Flores, pergi-pulang. Tadinya, Garuda Indonesia transit terlebih dahulu di Ngurah Rai, Bali, sehingga menambah waktu perjalanan.

Penerbangan langsung menuju Labuan Bajo menggunakan pesawat Bombardier CRJ1000 NextGen berkapasitas 96 kursi. Dengan Bombardier, Garuda juga berencana menjangkau destinasi-destinasi wisata lain dengan rute penerbangan jarak pendek atau menengah.

Kebetulan, pemerintah kini juga sedang menggenjot penerbangan menuju destinasi-destinasi wisata, seperti Danau Toba di Sumatera Utara dan Mandalika di Nusa Tenggara Barat. Tujuannya adalah untuk mengakselerasi perekonomian setempat.

Pesawat yang Dioperasikan Garuda

Garuda Indonesia, pada Januari 2015, mengoperasikan 134 pesawat yang terdiri dari:

Mulai 21 Maret 2016, misalnya, Garuda Indonesia juga telah membuka penerbangan langsung dari Jakarta ke Silangit, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Walau dimulai dengan hanya tiga penerbangan dalam seminggu, diharapkan kehadiran Garuda dapat meningkatkan pariwisata di kawasan Danau Toba.

Harapan serupa ditujukan kepada Garuda saat membuka dua rute baru pada September 2016. Kala itu, Garuda membuka rute penerbangan Denpasar-Maumere dan Kupang-Jakarta.

Jadi, ada harapan besar supaya Garuda Indonesia tidak sekadar mengangkut penumpang, tetapi juga melejitkan perekonomian setempat. Tentu saja, lagi-lagi kita paham ada maskapai lain, tetapi kehadiran Garuda Indonesia sangat dinanti.

Ini bukan soal daya angkut atau kenyamanan. Garuda Indonesia juga menjadi salah satu maskapai paling dicintai justru karena keramahan para awak kabin. Salam Garuda, misalnya, menjadi salah satu aset dari Garuda yang perlu dipertahankan.

Mengapa? Karena siapa pun yang naik pesawat Garuda langsung disambut dengan salam Garuda sebagai refleksi dari keramahtamahan bangsa ini. Keramahtamahan yang seharusnya senantiasa dijaga...

Kerabat Kerja

Penulis

Haryo Damardono

Fotografer

Lucky Pransiska
Dudy Sudibyo
Heru Sri Kumoro
Lasti Kurnia

Infografik

Dimas Tri Adiyanto

Desainer & Pengembang

Elga Yuda Pranata
Rafni Amanda
Yosep Wihelmus Nabu

Produser

Prasetyo Eko Prihananto