KompasKompasMembangun Borobudur dari Pinggiran

Membangun Borobudur
Dari Pinggiran

A degan film Ada Apa Dengan Cinta 2, saat Rangga dan Cinta menikmati matahari terbit dari atas bukit berlatar depan bangunan unik menyerupai burung merpati, membuka mata semua orang. Ternyata, perbukitan Menoreh, Magelang, Jawa Tengah, begitu indah.

Punthuk Setumbu dan Bukit Rhema, yang muncul di film itu, kemudian menjadi hanya segelintir dari banyak obyek wisata yang belakangan tumbuh. Dari pinggiran, pariwisata Borobudur kembali dibangun oleh masyarakat.

Nama Punthuk Setumbu sendiri pun sudah lama dikenal meski terbatas di kalangan fotografer. Dari puncak bukit setinggi lebih kurang 400 meter itu, mereka dapat membidik kemegahan Candi Borobudur dengan lanskap perbukitan Menoreh.

Fotografer harian Kompas, Eddy Hasby misalnya, tepat awal tahun 2004, telah memotret Candi Borobudur berselimut kabut pagi dari atas ketinggian perbukitan Menoreh. Foto itu dicetak di harian Kompas, 2 Januari 2004.

Pariwisata Borobudur belum punya daya ungkit terhadap perekonomian warga sekitar.

Beberapa tahun kemudian, beberapa warga setempat selalu mengantar fotografer-fotografer amatir untuk memotret Candi Borobudur saat subuh dari lokasi yang mereka kenal sebagai, ”bukit Eddy Hasby”.

Namun, keindahan alam perbukitan Menoreh belum tersebar luas. Meskipun dibuka untuk pariwisata sejak 2010, Punthuk Setumbu baru ramai dikunjungi setelah film AADC 2 menampilkan adegan Rangga dan Cinta berkejar-kejaran menuju puncaknya.

Kompas/FERGANATA INDRA RIATMOKO
Wisatawan asing berpose untuk difoto rekannya saat mendatangi bukit Punthuk Setumbu di Desa Karangrejo, Kecamatan Borobudur, Magelang, Selasa (1/3/2016). Lokasi yang dikelola warga setempat ini menjadi lokasi favorit bagi wisatawan yang hendak menyaksikan pemandangan kawasan sekitar Borobudur.

Pada Senin, 16 Mei 2016, harian Kompas menulis, seminggu setelah AADC 2 diputar perdana di bioskop di seluruh Indonesia, jumlah pengunjung Punthuk Setumbu di Desa Karangrejo, Kecamatan Borobudur, melonjak.

Biasanya, per hari hanya ada 100-200 pengunjung, tetapi meningkat menjadi 400-900 orang per hari. Tidak lama kemudian, jumlah wisatawan mencapai lebih dari 800 orang dalam sehari.

Lonjakan jumlah pengunjung kemudian mendongkrak ekonomi warga setempat. Kepala Desa Karangrejo M Hely Rofiqun juga mengakui, ramainya Punthuk Setumbu juga membangkitkan keyakinan warga untuk mengelola wisata secara swadaya.

Sebelumnya, meski hanya berjarak sekitar 3,5 kilometer dari Candi Borobudur, warga di sekeliling destinasi berskala dunia itu tidak banyak terdampak. Warga Desa Karangrejo juga lebih banyak gigit jari.

Kompas/EDDY HASBY
Pucuk Stupa di Candi Borobudur, simbol maha karya anak bangsa, Kamis (1/1/2004), terlihat indah dibalik selimut kabut pagi dari atas ketinggian Punthuk Setumbu. Foto ini (tanpa crop) menjadi foto utama Kompas edisi 2 Januari 2004.

Harus diakui, hanya segelintir warga yang memanfaatkan kunjungan turis dengan berjualan pakaian, cendera mata, ataupun oleh-oleh di sekitar candi. Secara keseluruhan, pariwisata Borobudur belum punya daya ungkit terhadap perekonomian warga sekitar.

Perubahan pun terjadi. Harian Kompas, 6 Agustus 2016, mencatat pernyataan Sekretaris Badan Pengelola Wisata Alam dan Sunrise Punthuk Setumbu (BPWASPS) As’ad Muzaki (30). Dengan tiket masuk wisatawan domestik Rp 15.000 per orang dan Rp 30.000 bagi turis asing, kata Muzaki, rata-rata omzet Punthuk Setumbu sekitar Rp 70 juta per bulan.

Dia menambahkan, BPWASPS menggandeng para petani, pedagang di kawasan candi, dan para pemuda pengangguran. ”Sekitar 50 persen pengurus adalah pengangguran, termasuk saya,” kata Muzaki.

Didukung demam swafoto untuk diunggah di media sosial yang sedang mewabah di kalangan anak-anak muda, satu per satu destinasi wisata di sekitar Candi Borobudur mulai tumbuh. Dalam radius lima kilometer dari candi, setidaknya terdapat 10 destinasi wisata yang dikelola swadaya oleh warga.

Selain Punthuk Setumbu, dan Bukit Rhema—yang juga sering disebut ”Gereja Ayam”, obyek lain ialah Bukit Barede, Puncak Sukmojoyo, Punthuk Mongkrong, Pos Mati, Bukit Purwosari, Punthuk Setompo, Punthuk Setumpuk, dan Punthuk Cething.

Julet Tambeng, penasihat pengelola wisata Bukit Barede, mengakui, ramainya Punthuk Setumbu menginspirasi warga sekitar Borobudur memanfaatkan keindahan alam menjadi destinasi wisata. Bukit Barede, yang baru dibuka awal tahun 2017, sejauh ini mampu menyedot kunjungan ribuan wisatawan dalam sebulan dengan omzet per bulan Rp 40 juta.

Anda Sudah Membaca Sebagian dari Konten Ini

Untuk dapat mengakses keseluruhan konten ini, Anda harus berlangganan salah satu paket di Gerai Kompas atau login jika sudah berlangganan. Bagi pengguna baru, daftar dan dapatkan akses bebas ke semua Berita Bebas Akses

Kerabat Kerja

Penulis

Gregorius M Finesso
Karina Isna
Regina Rukmorini
Haris Firdaus

Fotografer

Eddy Hasby
P Raditya Mahendra Yasa
Ferganata Indra Riatmoko
Haris Firdaus
Regina Rukmorini
Bahana Patria Gupta

Videographer

Ferganata Indra Riatmoko

Paralaks

Toto Sihono

Editor Video

Antonius Sunardi

Desainer & Pengembang

Deny Ramanda
Rafni Amanda

Produser

Prasetyo Eko Prihananto
Haryo Damardono