KompasKompasPramugari, dari Gendong Penumpang hingga Bantu Persalinan

Pramugari, dari Gendong Penumpang hingga Bantu Persalinan

Pramugari bukan sekadar cantik, tetapi harus kuat, cepat mengambil keputusan dalam bertindak, dan tentunya selalu memastikan penumpang dalam kondisi baik

Pramugari bukan sekadar cantik, tetapi harus kuat, cepat mengambil keputusan dalam bertindak, dan tentunya selalu memastikan penumpang dalam kondisi baik

Awal bulan Januari 2017, seorang pramugari dari maskapai penerbangan Garuda Indonesia meramaikan jagat media sosial. Vera (19), pramugari junior Garuda tersebut, menggendong seorang nenek menyusuri lorong pesawat.

Mengabaikan resiko cidera, dan lebih atas dorongan rasa kasih, Vera menggendong sang penumpang di punggungnya. Koridor pesawat memang terlalu sempit untuk pergerakan kursi roda sehingga Vera memutuskan untuk menggendong nenek itu.

Kisah Vera ini menjadi gambaran utuh dari pekerjaan seorang pramugari. Pramugari bukan hanya sekadar cantik, tetapi harus tegar, kuat, dan cepat mengambil keputusan dalam bertindak. Dan, di atas segalanya, harus memastikan penumpang dalam kondisi baik, dan nyaman. Di sisi lain, peran pramugari juga vital dalam memastikan keamanan dan keselamatan penerbangan.

Terkait tindakan Vera, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi bahkan merasa perlu memberi penghargaan. Penghargaan itu diberikan kepada Vera dan Flight Service Manager Ninik Septinawati.

Penghargaan diberikan demi menginspirasi pelaku industri jasa transportasi yang lain. ”Spontanitas dan ketulusan melayani penumpang adalah inti dari layanan jasa transportasi,” kata Budi Karya.

KOMPAS/HERU SRI KUMORO
Pramugari membantu meggendong anak saat warga negara Indonesia yang dievakuasi dari Mesir tiba di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Rabu (2/2/2011). Pada gelombang pertama, sebanyak 411 WNI, sebagian besar anak-anak beserta orang tuanya, dievakuasi akibat situasi yang tidak kondusif akibat aksi unjuk rasa di Mesir yang menuntut Presiden Hosni Mubarak mundur.

Beberapa bulan setelah itu, lima pramugari Lion Air mendapat penghargaan dari Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi. Sebelumnya, para pramugari Lion Air tersebut membantu penumpang yang melahirkan di penerbangan Lion JT 972 dari Medan ke Surabaya pada Sabtu (8/4/2017).

Kelima pramugari itu bernama Putri Norma Yulianawati, Annisa Putri Harahap, Erhasonita, Fitria Martha, dan Rima Ratna Dewi. Mereka telah membuktikan diri bahwa kualitas pramugari Indonesia secara umum dalam kondisi prima.

“Spontanitas dan ketulusan melayani penumpang adalah inti dari layanan jasa transportasi”

Kualitas tinggi pramugari, pramugari―dan secara umum awak kabin Indonesia, kini bahkan telah diakui oleh dunia internasional. Awak kabin Garuda Indonesia misalnya, telah empat kali berturut-turut menyabet penghargaan sebagai Awak Kabin Terbaik Dunia atau World’s Best Cabin Crew 2017 di World Airline Awards.

Penghargaan itu diterbitkan oleh Skytrax, yang jelas bukan lembaga sembarangan. Sebelumnya, Skytrax menyurvei lebih dari 18 juta penumpang dari 280 maskapai penerbangan dunia.

Arsip Merpati Nusantara Airlines
Seorang bayi perempuan lahir selamat di penerbangan MZ 845 dari Timika menuju Makassar, Minggu (6/1/2013) pukul 18.40 WIT. Kelahiran bayi itu dibantu oleh kru pesawat Merpati Nusantara Airlines dan seorang mahasiswa D3 Keperawatan. Keempat pramugari yang membantu persalinan itu adalah Rahmasari, Musyarofatul Laila, Annisa Abdullah, Sherly Juwita, dan seorang Flight Operation Officer Teguh Mardianto.

”Pencapaian ini sebagai bukti kerja keras karyawan dan karyawati Garuda Indonesia, khususnya para awak kabin, yang memberikan pelayanan terbaiknya kepada seluruh penumpang Garuda Indonesia,” kata Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Pahala N Mansury saat menerima penghargaan itu di Paris Air Show 2017, Selasa (20/6/2017).

Menurut Pahala, Garuda Indonesia akan mempertahankan predikat sebagai awak kabin terbaik di dunia. Walau menurut dia, upaya mempertahankan predikat itu semakin sulit di tengah persaingan antarmaskapai yang semakin ketat.

Tuntutan

Keberhasilan Garuda Indonesia dalam menempatkan awak kabinnya sebagai World’s Best Cabin Crew 2016 jelas menjadi kebanggaan. Pramugari-pramugara Garuda dengan demikian mengungguli pramugari dari maskapai dunia lain. Sebut saja misalnya, pramugari dari Singapore Airlines, pramugari dari maskapai Timur Tengah seperti Emirates dan Etihad hingga maskapai-maskapai “mature” dari Amerika seperti United Airlines maupun American Airlines.

Padahal, maskapai dari Timur Tengah misalnya, memiliki sumber dana dan sumber daya yang nyaris tak terbatas untuk ibaratnya “mendandani” pramugari mereka. Namun, tetap saja, pramugari “Merah Putih” lebih unggul.

Terpilihnya awak kabin Garuda Indonesia sebagai awak kabin terbaik dunia, tentu bukan hanya karena penampilan fisik mereka. Ada hal-hal lain yang dilakukan dan ditampilkan sehingga memberikan kesan baik di mata penumpang.

Kompas/Suhartono
Salah satu pramugari Boeing 737-900ER milik Maskapai Penerbangan Nasional, Lion Air, Senin (30/4/2007) tengah memperagakan penggunaan baju pelampung sesaat satu dari 60 unit pesawat Boeing yang baru saja diresmikan penggunaannya oleh Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla, mengudara dari Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang, Banten. Uji coba terbang selama 45 menit dari Cengkareng menuju Pangkalan Halim Perdana Kusuma, dengan melintasi perairan di sekitar Gunung Krakatau, Banteng, berlangsung dengan baik.

Harus diakui, untuk menjadi pramugari, ada tuntutan khusus terkait fisik, misalnya penampilan yang menarik, tinggi badan, dan kesehatan mata. Namun, tuntutan fisik itu hanya satu dari sekian banyak tuntutan yang harus dipenuhi dari seorang awak kabin.

Ada banyak kebisaan lain yang dituntut dari seorang awak kabin. Awak kabin, misalnya, harus ramah dan dapat menjadi teman bicara bagi penumpang. Dia juga harus menjadi penghubung antara pilot dan penumpang. Apa yang terjadi di kabin juga harus dilaporkan kepada pilot sehingga pilot tahu kondisi yang terjadi dan dapat mengambil keputusan.

“Dengan semua kondisi yang memengaruhi kondisi tubuh, termasuk saat dilanda cuaca buruk, awak kabin dituntut untuk terus melayani penumpang dengan penuh senyum”

Beberapa kali terjadi, ada penumpang yang tidak patuh atau bahkan pencuri tertangkap basah dalam sebuah penerbangan. Hal ini membutuhkan ketegasan dan kekuatan untuk mengatasinya. Jika awak kabin tidak berani atau tidak tegas, tentu penumpang yang tidak patuh dapat melawan dan bahkan membahayakan penerbangan.

Seorang pramugari, walaupun tubuhnya ramping, tetapi tetap harus kuat. Sering kali penumpang membawa koper yang cukup berat untuk disimpan di dalam kompartemen kabin sehingga membutuhkan bantuan pramugari untuk mengangkat koper itu. Bahkan, bisa juga terjadi, pintu bagasi kabin sulit ditutup karena koper yang disimpan di bagasi kabin sangat berat.

Pramugari juga dituntut dapat menjaga kebugaran tubuh walau sudah bekerja selama berjam-jam dalam perjalanan panjang. Jika penumpang bisa duduk sambil tidur selama dalam perjalanan, awak kabin harus terus siaga. Mereka hanya beristirahat satu jam selama delapan jam penerbangan.

Mereka juga harus dapat mengatur jam biologis tubuhnya karena sering kali mereka harus bekerja dalam penerbangan malam atau dengan waktu yang berbeda dengan Indonesia. Dengan semua kondisi yang memengaruhi kondisi tubuh, termasuk saat dilanda cuaca buruk, awak kabin dituntut untuk terus melayani penumpang dengan penuh senyum.

Persoalannya, senyum dari seorang pramugari tidak harus selalu berbalas senyuman. Teguran dari seorang pramugari demi keselamatan penerbangan, tidak selalu diterima dengan baik oleh penumpang.

Kompas/Heru Sri Kumoro
Pramugari Sriwijaya Air, Tiwuk Dwi Yulianti memberikan instruksi kepada Deni Martin, penyandang tunanetra mengenai prosedur penyelamatan di Jakarta, Senin (1/8/2011). Selain itu, Sriwijaya Air juga meluncurkan buku informasi penerbangan dengan huruf braile.

Nur Febriyani, pramugari Sriwijaya Air, ambil contoh, pada hari Rabu (5/6/2013) dipukul oleh seorang penumpang lantaran meminta sang penumpang untuk mematikan telepon genggamnya. Teguran dilakukan Nur jelas demi keselamatan penerbangan meski penumpang itu justru mencari masalah.

Menjaga keamanan dan keselamatan penerbangan memang salah satu tugas pramugari. Ada contoh kasus pada hari Rabu (30/12/2009) tatkala Mandala Airlines, yang waktu itu masih terbang, terpaksa menurunkan tujuh penumpangnya di Bandar Udara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru.

Apa alasannya? Salah seorang dari ketujuh penumpang itu, Ny Herawati, menggunakan telepon genggam saat pesawat dengan nomor penerbangan RI 103 tersebut hendak menuju landas pacu. Pramugari Mandala sudah memberi peringatan tetapi tidak diperhatikan.

Ny Herawati bahkan menggedor-gedor pintu kabin pilot karena suaminya tertinggal. Tindakannya itu dinilai membahayakan keselamatan penerbangan. Pramugari dan pilot pun mengambil keputusan tegas.

Pekerjaan sekaligus berwisata?

MENJADI pramugari merupakan salah satu cita-cita yang diimpikan gadis remaja. Mereka ingin tampak cantik, banyak berpergian―ini juga penting bagi generasi milenial, dan memperoleh gaji yang lebih tinggi dibandingkan dengan pekerjaan yang setara.

Dengan ijazah sekolah menengah atas (SMA) ditambah kondisi fisik yang mendukung, plus kemampuan berbahasa Inggris, seorang gadis belia bisa melamar menjadi pramugari.

Menjadi awak kabin, gadis belia ini mendapatkan gaji yang lebih tinggi, ditambah uang terbang yang lumayan besar. Sering kali gaji yang diterima setiap bulan berubah menjadi tabungan. Sementara itu, untuk memenuhi kebutuhan hidup, para awak kabin ini menggunakan uang terbang. Diperkirakan, seorang pramugari mendapatkan penghasilan Rp 10 juta hingga Rp 20 juta per bulan.

KOMPAS/lasti Kurnia
Pramugari dari maskapai penerbangan Lion Air melakukan simulasi penyelamatan penumpang di air di kolam renang Senayan, Jakarta, Sabtu (23/1/2010). Latihan ini merupakan bagian dari latihan keselamatan penerbangan untuk meningkatkan kecakapan pramugari untuk tanggap dalam keadaan darurat.

Nilai tambah lain yang didapatkan seorang awak kabin adalah mengenal daerah baru. Mereka diajak terbang ke kota-kota dan negara yang belum pernah dikunjungi sebelumnya. Ibaratnya, sudah dibayar, masih bisa jalan-jalan.

Namun Deputy Chief Flight Attendants Garuda Indonesia Kartika Rusmartini mengatakan, kendati dibayar besar dan kerap jalan-jalan, tidak semua awak kabin tahan dengan pekerjaan ini. Jangan heran bila sebuah maskapai penerbangan terus-menerus membuka lowongan untuk awak kabin.

”Setiap minggu kami membuka lowongan. Tes wawancara langsung diadakan terus-menerus. Kami juga banyak pesawat baru sehingga dibutuhkan awak kabin tambahan. Namun, ada banyak awak kabin yang keluar dengan berbagai alasan sehingga kami terus merekrut,” ujar Kartika.

Menjadi awak kabin memang dibayar mahal. Namun, tuntutan pekerjaannya juga tinggi. Misalnya, untuk penerbangan pagi pukul 07.00, awak kabin harus siap di bandara dua jam sebelum penerbangan atau pukul 05.00. Dengan demikian, awak kabin harus sudah meninggalkan rumah paling telat pukul 04.00. Jika dijemput pukul 04.00, mereka harus sudah bangun dan mempersiapkan diri, selambat-lambatnya pukul 03.00.

KOMPAS/lasti Kurnia
Pramugari baru angkatan 368 belajar mengenal pesawat secara langsung di Garuda Maintenance Facility, Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (21/12/2010). Untuk persiapan akhir tahun, Garuda menambah 14.000 kursi untuk mengantisipasi lonjakan penumpang khususnya penerbangan ke Denpasar dan Singapura. Dan terus menambah jumlah kru pramugari hingga target 1.000 orang pada 2011.

Jika bertugas di penerbangan siang, waktu yang harus disiapkan harus lebih lama karena perjalanan menuju ke bandara, terutama Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, sering kali padat dan macet. Tekanan seperti ini sering kali membuat awak kabin tidak betah dan keluar dari pekerjaannya. Apalagi, para awak kabin ini nyaris tidak mempunyai waktu untuk bersosialisasi dengan teman dan keluarga.

Sering kali mereka harus bekerja ketika ada acara keluarga. Atau harus membatalkan acara yang sudah dipersiapkan lama karena tidak bisa balik pulang akibat penerbangan terganggu cuaca. Alih-alih mengikuti acara reuni dengan teman lama, mereka malah harus terus menjalin kerja sama dan kekompakan dengan sesama awak kabin, yang tidak mereka kenal sebelumnya.

“Kendati dibayar besar dan kerap jalan-jalan, tidak semua awak kabin tahan dengan pekerjaan ini”

Meski angka fatalitas transportasi udara lebih rendah dari transportasi darat, namun tidak jarang ada pramugari yang meninggal dunia saat bertugas. Pramugari Sky Air, Rossy Witham (43) misalnya, tewas dalam penerbangan pesawat Sukhoi Superjet 100, di Tenjolaya, Cidahu, tebing Gunung Salak, Rabu (9/5/2012).

Seperti dimuat di harian Kompas, Jumat, 11 Mei 2012, Michael Arcy, putra Rossy cukup tegar. “Mama sudah dipanggil. Tugas mama sudah selesai,” kata Michael.

Diwawancarai di Bandara Halim, Michael berkepala plontos. Ternyata, Michael sudah empat bulan menjalani pendidikan sekolah pilot. Dia akan mengikuti jejak ibunya mengangkasa.

Rossy merupakan satu dari delapan awak dalam pesawat Sukhoi Superjet itu. Bahkan terdapat total 45 orang dalam pesawat yang menghujam Gunung Salak itu. Dan, tidak ada seorang penumpang pun yang selamat.

Dalam pendaratan pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA 421 rute Ampenan (Mataram)-Yogyakarta-Jakarta, pramugari Santi Anggraeni bahkan menjadi satu-satunya korban. Ketika itu, Santi yang duduk di bagian belakang pesawat terlempar keluar dari dalam pesawat.

Santi, yang ketika itu, sudah lima tahun bertugas sebagai pramugari Garuda, padahal baru hendak dianugerahi predikat sebagai pramugari teladan. Namun, sebelum sempat menerima penghargaan, dia sudah berpulang.

Bila ditarik ke belakang, tentu ada lebih banyak kejadian lainnya. Ada lebih banyak pramugari yang gugur saat bertugas. Namun, mengapa masih ada orang yang tetap terbang? Jerry Crawford, seorang penerbang pernah berkata, “to most people, the sky is the limit. To those who love aviation, the sky is home”. Jadi, langit adalah, tempat tinggal mereka...

Kerabat Kerja
Penulis
M Clara Wresti
Haryo Damardono
Penyelaras Bahasa
Apolonius Lase
Ilustrator
Pandu Lazuardy Patriari
Videografer
Raditya Helabumi
Videoeditor
Antonius Sunardi
Fotografer
Heru Sri Kumoro
Suhartono
Lasti Kurnia
Desainer & Pengembang
Rafni Amanda
Yosep Wihelmus Nabu
Produser
Prasetyo Eko Prihananto