Kampung Adat Menangkal Wabah

Memuat Halaman

Memuat Halaman

… … … …
Kampung Adat
Menangkal Wabah
Dua hal besar menjadi sorotan ketika pandemi Covid-19 datang dan meluluhlantakkan kehidupan: kesiapan bidang kesehatan dan ketangguhan ekonomi. Tentu saja, tidak ada negara yang siap, termasuk Indonesia. Namun, nun di kampung-kampung adat di Jawa Barat dan Banten, petuah leluhur memandu agar terhindar dari serangan wabah penyakit.
…
…
Kampung Baduy
Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Lebak, Banten.
Kampung Sinar Resmi
Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi.
Kampung Ciptagelar
Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi.
Kampung Mahmud
Desa Mekarahayu, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung
Kampung Pulo
Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut.
Kampung Naga
Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya.
Kampung Kuta
Desa Karangpaningal, Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis
Setidaknya ada 11 kampung adat di Jabar dan Banten. Kampung Mahmud dan Cikondang (Kabupaten Bandung), Pulo dan Dukuh (Garut), Kuta (Ciamis), Cigugur (Kuningan), Urug (Bogor), Naga (Tasikmalaya), serta Baduy (Banten). Di Kabupaten Sukabumi, ada Sinar Resmi, Ciptagelar, dan Ciptamulya. Masing-masing dengan keunggulan dan keunikan tersendiri. *Arahkan mouse ke pin pada peta
… … …
Kampung Adat Kuta
Kampung Adat Kuta bisa jadi teladan hidup sehat. Mereka tidak membuat pemakaman di dalam kampung. Kearifan ratusan tahun ini diturunkan pendiri Kampung Kuta, Ki Bumi. Makamnya di luar permukiman.

Warga Kuta percaya, di bawah kampung mereka tersimpan harta nenek moyang dari Raja Galuh. Namun, nekat menggalinya sama dengan mengundang murka. Mereka juga percaya tanah Kuta adalah suci.
… …
Untuk menjamin sanitasi yang ideal, jamban dibangun terpisah dari rumah dan mata air. Tak jarang, jamban ditempatkan di kolam ikan, jauh di pinggir permukiman. Untuk kebutuhan mandi, cuci, dan kakus, dibuat pancuran bambu yang airnya disalurkan melalui selang plastik.
… …
Jauh sebelum Orde Baru, mereka telah ber-”keluarga berencana”. Adat mengatur, hendaknya tidak punya anak banyak jika tak mampu menjamin masa depannya. Tidak heran, setiap keluarga hanya punya 1-2 anak.
… …
Adat seperti tahu ancaman kepadatan penduduk yang bisa menggerus tempat keramat. Warga Kuta menghindar tinggal di hutan dan tebing karena percaya bencana alam bisa datang sewaktu-waktu. Di pekarangan rumah, disisakan lahan untuk tanaman obat. Sirih, kaca piring, hateup, cikur, kibangkong, dan salihara dimanfaatkan untuk obat muntaber, luka, batuk, dan stroke.
… …
Kampung Adat Baduy
Warga Baduy menjalankan ajaran serupa yang membuat mereka siap menghadapi wabah penyakit, seperti diungkapkan Guru Besar Etnobiologi Universitas Padjadjaran Johan Iskandar.

Tahun 1960-an, warga Baduy pernah dirundung wabah cacar, seperti daerah lain di Tanah Air. Saking mengerikannya, warga menyamakan penyakit itu dengan jurig kuris. Jurig artinya ’hantu’ atau ’setan’. Kuris berarti ’totol’ atau ’bentol’.
… …
Saat itu, mereka mengarantina warga yang terkena cacar di rumah karantina yang dibangun gotong royong di dalam hutan. Asupan makanan dan minuman diantar setiap hari. Hutan yang masih asri menjadi terapi. ”Tidak sekadar dianggap sebagai orang sakit, penderita cacar diberi semangat, dianggap sebagai pelaku pertarungan melawan jurig kuris. Mereka baru bisa pulang ke kampung setelah memenangi pertempuran,” kata Johan
… …
Warga yang sedang berada di luar wilayah Baduy diminta pulang. Harus ikut tes kesehatan sebelum bertemu keluarga. Orang luar dilarang datang. ”Saat pandemi ini, hal serupa dilakukan. Harapannya tidak ada warga tertular,” kata Johan.

Tahun ini, karantina lebih ketat. Apalagi bertepatan dengan acara adat Kawalu, upacara selamatan pascapanen yang dilakukan selama tiga bulan.
… …
Ketahanan Pangan
Selain menjaga tubuh, warga Baduy juga piawai menjaga sumber pangan tetap lestari. Mereka tidak menggunakan pupuk pabrikan dan pestisida untuk sawah ladang yang menjadi tumpuan hidup.

Warga Baduy Dalam bahkan masih menabukan mandi dengan sabun dan sampo. Ini menghindarkan lingkungan dari pencemaran.
… …
Mereka juga tidak serakah. Tidak semua kawasan dijadikan sawah ladang. Warga percaya hutan harus ada dan alam tetap hijau agar terus memberi manfaat dan menghasilkan sumber air bagi kehidupan warga.

Dari sekitar 5.000 hektar luas kawasan, 3.000 hektar di antaranya dipertahankan sebagai hutan untuk menjaga 120 titik mata air. Alih-alih mengubah hutan lindung untuk ladang, warga lebih memilih mengolah tanah di luar kawasan Baduy.
… …
Agar tahan lama, padi disimpan di leuit atau lumbung padi. Ukuran leuit bervariasi tergantung luas huma yang dikelola. Masyarakat Baduy biasanya membangun leuit dengan kapasitas 500-1.000 ikat padi.
… …
Tahun 1980-an, tanaman albasia mulai banyak ditanam warga Baduy di sela-sela padi ladang. Hasilnya dipetik setiap lima tahun sekali ketika ladang selesai beura, dibiarkan tidak ditanami setelah lewat tiga kali musim panen.

Kayu albasia dijual warga kepada bos pengumpul yang sebagian orang Baduy untuk dikirim ke pembeli di luar daerah. Sebatang kayu albasia umur lima tahun bisa laku Rp 100.000. Sekali panen, rata-rata diperoleh hasil Rp 5 juta-Rp 15 juta.
… …
Kampung adat
Sinar Resmi
Seratus kilometer dari Baduy, di Kampung Adat Sinar Resmi di Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, padi juga diperlakukan istimewa.

Padi diyakini perwujudan Nyai Pohaci atau Dewi Sri yang dianggap berjasa memberi kehidupan, seperti ditulis Risa Nopianti, peneliti di Balai Pelestarian Nilai Budaya Jabar dalam Leuit Si Jimat: Wujud Solidaritas Sosial Masyarakat di Kasepuhan Sinar Resmi.
… …
Warga menggelar ritual adat sejak awal tanam hingga panen. Puncaknya, upacara adat seren taun (syukuran panen), yang digelar sebelum semua padi disimpan dalam leuit (lumbung padi). Padi di leuit bisa tahan 40-50 tahun.
… …
Warga Sinar Resmi terbiasa dengan konsep berbagi. Sebelum masuk leuit, padi akan disisihkan untuk yang membutuhkan, seperti diungkapkan Pemimpin Sinar Resmi Abah Asep Nugraha.

Saat longsor besar tahun lalu, tidak hanya warga yang dievakuasi, tetapi juga padi yang lalu dibagi rata kepada yang terdampak. ”Di tengah pandemi Covid-19, kesukarelawanan itu kembali terlihat. Tidak ada warga yang dibiarkan kelaparan,” kata Asep.
… …
Berguna untuk semua
Saat mitigasi dijaga, sejatinya bukan hanya warga adat yang sehat dan sejahtera, melainkan juga masyarakat sekitar. Seperti terlihat di Kampung Adat Naga di Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya.
Untuk menjaga kelestarian air, masyarakat Naga dilarang mengambil ikan sembarangan di sekitar hulu Ciwulan. Hanya pada saat upacara adat Marak, masyarakat diperbolehkan mengambil ikan dalam jumlah besar. Ini membuat kualitas air Ciwulan terjaga. Hasil perikanan melimpah tidak hanya dinikmati warga Naga, tetapi juga masyarakat Tasikmalaya.
… …
Data Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Tasikmalaya tahun 2013 mencatat, 5.838 hektar dari total 7.572 hektar kolam air tawar menggunakan air DAS Ciwulan. Dalam setahun, dari kolam seluas itu dihasilkan 31.787 ton ikan dari total 47.727 ton ikan asal Tasikmalaya.
Jika harga ikan Rp 8.000-Rp 75.000 per kilogram, dalam setahun air DAS Ciwulan berperan menghasilkan perputaran uang Rp 254 miliar-Rp 2,3 triliun per tahun. Jumlah itu setara dengan pendapatan asli daerah Tasikmalya tahun 2019 sebesar 255 miliar.
… …
Tidak hanya itu, 49.631 hektar sawah di Tasikmalaya yang menghasilkan 295.734 ton beras per tahun juga bergantung pada DAS Ciwulan. Tidak heran, Tasikmalaya dikenal sebagai lumbung pangan Priangan Timur.
Jika harga beras Rp 5.000-Rp 6.000 per kilogram, DAS Ciwulan memegang peranan penting memutar uang Rp 1,4 triliun-Rp 1,7 triliun per tahun. Belum lagi air bersih bagi 36.000 pelanggan Perusahaan Daerah Air Minum Tirta Sukapura. Pasokannya berasal dari sumber air di sekitar DAS Ciwulan.
… …
Selain berbagai kebiasaan turun-temurun yang telah menghindarkan dari wabah, masyarakat adat juga memiliki kearifan yang menciptakan ketahanan pangan dan jurus menjaga lingkungan. Apa saja kearifan dan jurus-jurus itu?
Simak kelanjutan ceritanya dalam Leuit dan Hutan Keramat Penyelamat

Kerabat Kerja

Penulis: Cornelius Helmy Herlambang | Penyelaras Bahasa: Yuliana Karim | Desainer Grafis: Tiurma Clara Jessica | Audio: Rian Septiandi | Desainer & Pengembang: Clara Sonya Angelica, Yulius Giann, Naomi Aryati Putri | Produser: Sri Rejeki