Leuit dan Hutan Keramat Penyelamat

Memuat Halaman

Memuat Halaman

… … … …
Leuit dan Hutan Keramat Penyelamat
Warisan kearifan berbagai kampung adat di Jawa Barat dan Banten memandu warganya hidup sehat dan bertahan dari gempuran penyakit. Salah satunya lewat ketahanan pangan. Leuit menjadi lambang ketahanan pangan kampung adat. Sementara hutan keramat menjadi cermin bagaimana warga adat menjaga diri dan lingkungan.
… Rumah Adat …
LEUIT
Bagi sebagian besar masyarakat adat, leuit lebih dari sekadar penyimpan padi. Ia bentuk ketahanan pangan tangguh yang melintasi zaman. Dilambangkan sebagai rumahnya Sri Pohaci atau Dewi Sri, leuit dibuat dengan penghormatan tinggi.
Ada upacara adat yang panjang sebelum leuit digunakan menyimpan padi. Arsitekturnya canggih. Dengan bahan-bahan sederhana, tetapi mampu mengontrol kelembaban ruangan. Tak heran jika leuit bisa menyimpan padi hingga 50 tahun. Rasanya jauh lebih mumpuni ketimbang gudang-gudang pangan modern masa kini.
… Rumah Adat …
Kampung Baduy
Lumbung padi di Baduy berbentuk panggung yang ditopang empat kayu penyangga atau tiang yang tingginya sekitar 1 meter dari atas tanah. Tiang penyangga bilik tempat menyimpan padi, terbuat dari anyaman bambu.
Pintu lumbung berada di atas bilik, dekat dengan atap. Berukuran sekitar 40 sentimeter x 50 sentimeter. Atap lumbung dari daun sago kirai (sejenis palem) yang dianyam dan ditopang oleh gapit yang terbuat dari belahan bambu
… Rumah Adat …
Kampung Ciptagelar
Kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar berada di Desa Sirnaresmi, Cisolok, Kabupaten Sukabumi. Dari pusat Kota Bandung, letaknya 203 kilometer. Salah satu yang tersohor, leuit berjuluk ”si Jimat”, yang menjadi andalan saat paceklik. Kapasitasnya sekitar 7.500 ikat padi. Selain itu, setiap keluarga juga punya leuit sendiri yang berdinding bilik, atap ijuk, dan terletak di pinggiran permukiman. Di dekat leuit terdapat tempat menumbuk padi bernama saung lisung.
… Rumah Adat …
Kampung Naga
Leuit di Kampung Adat Naga berukuran 2,1 meter x 2,1 meter. Jumlahnya tidak banyak karena warga punya tempat penyimpanan berupa goah di dalam rumah.
… Rumah Adat …
Kampung Sinar Resmi
Di Sinar Resmi, leuit lazimnya berada di samping rumah. Ukurannya beragam. Misalnya, 1,5 meter x 2 meter yang bisa menampung 300 kilogram padi. Leuit menjadi penolong saat warga kesulitan pangan.
… Rumah Adat …
PANTANGAN
Pantangan punya arti besar bagi warga adat. Bukan sekadar aturan boleh atau tidak boleh, melainkan juga berisi panduan hidup. Jika ada yang menyebutnya omong kosong, nyatanya pantangan itu setua kampung-kampung adat yang usianya ratusan tahun. Saat pandemi, pantangan yang berisi panduan, kembali menjadi acuan agar hidup lebih tenang. Pantangan itu dalam kacamata sekarang termasuk mitigasi kesehatan.
… Rumah Adat …
Kampung Kuta
Di Kampung Adat Kuta, warga memperlakukan kesehatan sebagai investasi masa depan. Berbagai larangan mereka patuhi:
Teu kenging nyiduh, kahampangan, kabeuratan, di tempat karamat (tidak boleh meludah, buang air kecil dan besar di tempat keramat). Ludah dan kotoran manusia mengandung kuman dan merusak keasrian lingkungan.
… Rumah Adat …
Teu kenging sisiaran sareupna (tidak boleh mencari kutu di kepala saat malam). Kegiatan ini berpotensi merusak mata karena minim penerangan
… Rumah Adat …
Tujuh poe samemeh disepitan, budak sunat teu kenging lulumpatan (tujuh hari sebelum disunat, anak tidak boleh berlari-lari). Tujuannya mencegah penggumpalan darah yang membuat luka bekas sunat sulit kering.
… Rumah Adat …
Nu kakandungan teu menang ngadahar butuh (wanita hamil tidak boleh makan kelapa yang sudah berkecambah). Buah yang mulai tumbuh tunas biasanya sangat asam, rentan menggugurkan kandungan.
… … Rumah Adat
Kampung Mahmud
Kampung ini berada di Desa Mekarahayu, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung. Letak kampung ini berada di pinggir Sungai Citarum berjarak sekitar 200 km dari pusat Kota Bandung. Tak jauh dari keramaian kota, sejumlah aturan tetap dijaga warganya.
Begitu juga larangan membuat sumur. Bila dilakukan akan menganggu tanah menuju proses kesimbangan tanah. Namun, karena Sungai Citarum, sumber air utama di Kampung Mahmud mulai tercemar limbah pabrik tahun 1980-an, pembuatan sumur boleh dilakukan. Tujuannya, memenuhi kebutuhan air bersih warga.
… … Rumah Adat
Kampung Naga
Rumah penting untuk menjaga kualitas hidup warga adat. Karena itu, mereka memikirkan dengan saksama soal bahan, posisi, dan tata ruang. Rumah harus berbentuk panggung dengan dinding dari bambu atau kayu. Atap dari daun nipah, ijuk, atau alang-alang. Lantai dari bambu atau kayu. Material ini mendukung sirkulasi udara yang baik.
… … Rumah Adat
Rumah harus menghadap utara atau selatan dan memanjang dari barat ke timur. Konsep ini dikenal dalam pembuatan rumah sehat masa kini. Tujuannya agar ruangan di dalam rumah cukup mendapat sinar matahari sehingga tidak lembab.
… … Rumah Adat
Kampung Naga
Warga juga dilarang membangun rumah di wilayah perbatasan hutan dan perkampungan yang menjadi tempat masuk air, persawahan, dan selokan. Di sana diyakini ditunggui mahluk halus dan dianggap angker. Konsep ini mirip dengan pentingnya sempadan sungai. Air yang bersih dan tidak terkontaminasi menjadi sumber kehidupan sehari-hari dan pengairan.
… … Rumah Adat
Kampung Pulo
Hanya ada enam rumah atau enam kepala keluarga di Kampung Adat Pulo di kawasan seluas 0,5 hektar. Permukiman yang terlalu padat tidak ideal untuk hidup.
… … Rumah Adat
HUTAN KERAMAT
Sebagian kampung adat masih konsisten berbagi dengan alam lewat penyediaan kawasan tanpa hunian. Realisasinya berupa hutan berisi beragam jenis tanaman. Bagi mereka, hutan bukan sekadar rumah pepohonan, melainkan juga rumah bagi kehidupan manusia.
Warga percaya, hidup manusia jauh lebih mulia jika hutan dan alam terjaga karena menjadi sumber air bersih dan tempat berkembangbiaknya penyebar benih buah. Saat manusia modern perlu dikampanyekan arti hutan, warga adat telah menjadikan hutan sebagai pilar kehidupan, termasuk di bidang kesehatan dan ekonomi.
… … Rumah Adat
Kampung Kuta
Luas hutan keramat lebih kurang 40 hektar dari total 97 hektar. Di dalamnya ada makam keramat dan danau kecil. Hutan keramat yang berisi ribuan pohon ini hanya boleh dikunjungi hari Senin dan Jumat. Semua yang masuk harus melepas alas kaki. Pohon yang roboh tidak boleh diambil. Pembersihan hutan hanya boleh dilakukan menggunakan tongkat dan tangan kosong, tanpa golok, parang, cangkul, atau perkakas besi tajam lainnya.
… … Rumah Adat
Kampung Dukuh
Warga Kampung Adat Dukuh sangat menjaga keasrian hutan taneuh karomah yang pepohonannya tidak boleh ditebang. Letaknya dikelilingi hutan jati, hutan Gunung Dukuh, dan ladang milik warga. Di taneuh karomah, ada makam keramat yang hanya boleh dimasuki hari Sabtu, yakni makam Eyang Wali (Syeh Abdul Jalil), sesepuh Dukuh.
… … Rumah Adat
Kampung Baduy
Warga adat Baduy kukuh mempertahankan kawasan hutan. Ada tiga macam hutan di Baduy, yakni hutan titipan yang tidak boleh diganggu gugat oleh manusia. Kata titipan berarti amanat dari Tuhan dan para leluhur untuk dijaga keutuhan dan keberadaannya. Hutan titipan biasanya berada di daerah atas atau puncak gunung. Ada pula hutan tutupan yang merupakan kawasan hutan cadangan yang dapat dimanfaatkan saat dibutuhkan.
… … Rumah Adat
Masyarakat adat diperbolehkan masuk dan mengambil hasil hutan, seperti rotan, getah, buah-buahan, dan umbi-umbian. Pohon yang ditebang harus segera diganti pohon baru.
Hutan lain adalah hutan garapan, yakni kawasan yang dibuka menjadi lahan garapan untuk berhuma atau berladang. Lokasinya biasanya di kaki gunung.
Aturan atau hukum adat terkait pengelolaan kawasan hutan ini wajib dipatuhi. Pelanggarnya diancam sanksi keras hingga dikeluarkan dari lingkungan adat Baduy.
… … Rumah Adat
Ide mulia dimulai dari Hutan Biuk di kawasan hulu Sungai Ciwulan. Hutan di kaki Gunung Karacak itu terlarang dimasuki manusia. Jangankan menebang pohon dan memanfaatkannya, masuk ke hutan saja, orang tidak boleh, kecuali diizinkan tetua adat. Adat juga mewanti-wanti jika ada pohon tumbang di Hutan Biuk, warga dilarang menjamahnya. Lebih baik batang kayu dibiarkan membusuk.
… …
Kalaupun mendapat izin untuk mengambil tanaman obat di sekitar hutan, warga harus mematuhi perintah tetua adat. ”Misalnya, hanya satu kaki yang boleh menginjak Hutan Biuk, satu kaki lainnya berada di luar kawasan hutan. Mereka memang seperti tidak mau hutan adat itu diberikan beban berat kaki manusia,” kata Ucu Suwarman, sesepuh Naga.
…
Galeri Kampung Adat
Kompas/Heru Sri Kumoro
Area pertanian di sekitar pemukiman warga Kampung Adat Sinar Resmi di Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jumat (4/1/2019). Desa Sirnaresmi ini memiliki 68 varietas padi yang sering ditanam. Aturan adat mengatur, 10 persen hasil panen harus diberikan kepada fakir miskin, yatim piatu, dan orang yang membutuhkan.
Kompas/Arbain Rambey
Warga di Kampung Adat Naga, memindahkan rumah adat mereka tanpa melepas satu pun bagian rumah, kecuali mengganti atap ijuknya, Rabu (4/11/2009).
Kompas/Dedi Muhtadi
Kampung Adat Mahmud di pinggir Sungai Citarum kini bergeser menjadi di kanan sungai setelah sungai itu disudet tahun 1996. Kampung itu kemudian melebar ke Citarum lama yang kini sudah berubah menjadi kolam-kolam ikan.
Kompas/Cornelius Helmy Herlambang
Rumah di Kampung Adat Kampung Kuta, 2012. Hingga kini warga setempat masih menggunakan bahan kayu dan menghindari konstruksi besi atau beton dalam membangun rumah. Tujuannya untuk meringankan beban tanah yang labil dan mudah longsor.
Kompas/Rony Ariyanto Nugroho
Suasana pemukiman adat Kampung Adat Dukuh, Cikelet, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Minggu (15/3/2009). Konstruksi rumahnya dibuat dari bahan bilik, kayu, dan ijuk.
Kompas/Wawan H Prabowo
Tradisi tanam di Kampung Adat Ciptagelar di Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, 2013.
Kompas/Dwi Bayu Radius
Anak-anak bermain di samping leuit atau lumbung padi yang didirikan Suku Baduy di Kampung Ciboleger, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten, Jumat (23/2/2018). Suku Baduy mencegah menyebarnya wabah dan menjaga ketahanan pangan dengan menerapkan adat istiadatnya.
Kompas/Mahdi Muhammad
Candi Cangkuang di kawasan Kampung Adat Pulo, 2005.
… … … …

Suka dengan tulisan yang Anda baca?

Nikmati tulisan lainnya dalam rubrik Tutur Visual di bawah ini.

… … … …
Leuit dan Hutan Keramat Penyelamat

Kerabat Kerja

Penulis: Cornelius Helmy Herlambang | Penyelaras Bahasa: Yuliana Karim | Desainer Grafis: Tiurma Clara Jessica | Fotografer: Rony Ariyanto Nugroho, Heru Sri Kumoro, Arbain Rambey, Dedi Muhtadi, Cornelius Helmy Herlambang, Wawan H Prabowo, Dwi Bayu Radius, Mahdi Muhammad | Audio: Albertus Prahasta | Desainer & Pengembang: Clara Sonya Angelica, Yulius Giann, Naomi Aryati Putri | Produser: Sri Rejeki