Elang yang Semakin Menghilang

Memuat Halaman

Elang
yang Semakin Menghilang
Kerusakan habitat dan perburuan membuat kepunahan elang terpampang jelas di depan mata. Jika tak segera dicegah, keseimbangan alam akan terganggu. Selama ini, beberapa pulau besar di Indonesia menjadi habitat “sang pemburu”. Namun, sebagian dari mereka saat ini terancam punah. Padahal, keunikan yang dimiliki setiap spesies elang menjadi bentuk kekayaan hayati nusantara. Kepunahan satu spesies sama saja dengan kehilangan harta hayati yang selama ini menjadi kebanggaan Indonesia. Berikut 10 dari 81 spesies elang yang tersebar di Nusantara:
Jelajahi
Pulau Sumatera
scroll
Elang brontok
(Nisaetus cirrhatus)
Elang brontok tersebar di Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Namun, pemburu hewan kecil, tikus, dan burung-burung kecil ini paling sering ditemui di kepulauan paling barat Indonesia, seperti Pulau Mentawai, Siberut, Nias, serta pulau-pulau kecil lainnya dengan luas sebaran (extent of occurrence /EOO) mencapai 3,58 juta kilometer persegi.
scroll
Saat ini, Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam dan Sumber Daya Alam (IUCN) Red List mencatat, persebaran global hewan ini melingkupi India, Myanmar, Semenanjung Malaya, kemudian turun ke selatan meliputi Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Ujung timur dari persebaran populasi ini ada di Pulau Mindanao (Filipina) dan pulau-pulau kecil di sekitarnya.
Elang brontok bukan burung penjelajah, melainkan mampu terbang dengan batas ketinggian 1.500 meter. IUCN memasukkan elang brontok di kategori least concern. Artinya, burung ini belum masuk ke dalam perhatian konservasi atau berisiko rendah. Meski demikian, keberadaan elang ini harus dijaga karena mereka dibutuhkan untuk menyeimbangkan ekosistem sebagai puncak rantai makanan.
scroll
Elang wallace
(Nisaetus nanus)
Elang Wallace merupakan burung pemburu yang masuk dalam kategori rentan (vulnerable) oleh IUCN Red List. Saat ini elang wallacea tersebar di Semenanjung Malaya, Sumatera dan Kalimantan dengan luas sebaran mencapai 15,3 juta kilometer persegi. Populasi hewan ini dapat ditemukan di Kepulauan Nias di Sumatera Utara. Populasi pemburu burung dan hewan-hewan kecil ini hanya berkisar 2.500-10.000 di alam bebas.
scroll
Konvensi Perdagangan Internasional Tumbuhan Dan Satwa Liar Spesies Terancam (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora /CITES) memasukkan elang wallace masuk dalam kategori Apendiks II. Artinya, hewan ini perlu mendapatkan perlindungan untuk menjaga populasinya semakin rentan.
Habitat elang wallace berada di hutan hujan dengan ketinggian jelajah maksimal berada di 500 meter. Namun di beberapa titik dengan degradasi hutan seperti pembukaan lahan dan sawit, ketinggian jelajah elang ini mencapai lebih dari 1000 meter. Perubahan fungsi lahan ini menjadi penyebab berkurangnya habitat beserta buruannya.
scroll
Pulau Jawa
scroll
Elang jawa
(Nisaetus bartelsi)
Burung ini paling populer di keluarga elang Indonesia dan hanya hidup di Pulau Jawa. IUCN mengklasifikasikan elang jawa sebagai hewan terancam punah (endangered) populasi yang tersebar hanya 300-500 burung dewasa dengan sebaran mencapai 126.000 kilometer persegi.
scroll
Elang jawa berhabitat di kawasan hutan hujan dengan ketinggian jelajah mencapai 2.000 meter. Beberapa hutan lindung di beberapa gunung, seperti Gunung Salak, Tangkuban Parahu, Ciremai, dan Gunung Semeru, menjadi tempat tinggal ideal bagi sang pemburu. Elang ini dapat dikenali dengan jambul di atas kepalanya dan bulu dengan dominan berwarna coklat.
CITES sendiri memasukkan elang jawa dalam kategori Apendiks II. Hewan ini dilindungi agar populasinya dapat terjaga. Apalagi populasi elang jawa disinyalir berkurang setiap tahunnya.
Selain itu, perubahan fungsi lahan dari hutan hujan menjadi pertanian dan permukiman juga mempersulit elang untuk mendapatkan makanannya, seperti reptil dan mamalia kecil yang hidup di hutan. Elang ini diduga menjadi sumber inspirasi lambang Negara Indonesia, ”Garuda Pancasila”.
scroll
Elang laut perut putih
(Halietus leucogaster)
Elang laut perut putih merupakan burung pemangsa yang tinggal di daerah pesisir. Cakupan sebaran globalnya mencapai 40 juta kilometer persegi dari sepanjang pantai Samudra Hindia sampai Laut China Selatan. Persebaran hewan ini diperkirakan mulai dari India, Sri Lanka, Bangladesh, Myanmar, hingga Semenanjung Malaya di bagian barat.
scroll
Persebaran paling utara mencapai Filipina dan pesisir barat Vietnam, sedangkan paling selatan terdapat di pesisir Australia dan Selandia Baru. Di Indonesia, elang laut perut putih tersebar di seluruh pesisir Indonesia, terutama di Jawa dan Sumatera. Burung ini memiliki ketinggian jelajah hingga 900 meter dengan jumlah populasi 670-6.700 ekor dan diperkirakan terus berkurang.
IUCN memasukkan elang laut perut putih sebagai bagian dari hewan dengan kategori least concern (berisiko rendah). Meski demikian, sebagai pemegang takhta puncak rantai makanan, posisi elang laut perut putih sangat dibutuhkan untuk keseimbangan ekosistem.
scroll
Pulau Kalimantan
scroll
Elang gunung
(Nisaetus alboniger)
Elang gunung merupakan burung pemburu yang hanya tersebar di bagian barat Sumatera, Semenanjung Malaya, dan sebelah utara Kalimantan dengan wilayah sebaran mencapai 3,3 juta kilometer persegi. IUCN belum merilis estimasi populasi elang gunung dan mengklasifikasikan mereka sebagai hewan least concern (berisiko rendah).
scroll
Akan tetapi, jumlah elang gunung yang tersebar diperkirakan berkurang seiring menyempitnya habitat karena alih fungsi lahan. Berkurangnya potensi untuk hidup tersebut menempatkan elang laut masuk kategori Apendiks II sehingga populasinya perlu dikendalikan.
Sekilas elang gunung mirip elang jawa, tetapi burung pemburu ini memiliki warna bulu berwarna hitam dan putih. Hutan tropis menjadi habitat elang gunung dengan ketinggian jelajah mencapai 2.200 meter. Elang ini memburu hewan-hewan kecil yang berada di hutan, seperti mamalia dan reptil.
scroll
Elang bondol
(Haliastur indus)
Dalam cakupan global, elang bondol tersebar di bagian selatan Benua Asia hingga bagian utara Australia dengan sebaran populasi mencapai 45,3 juta kilometer persegi. Beberapa negara yang masuk ke dalamnya melingkupi India, Bangladesh, Myanmar, Semenanjung Malaya, Indonesia, Thailand, Vietnam, Kamboja, Filipina, dan bagian Barat China.
scroll
Di Indonesia, elang bondol kerap ditemui di Pulau Kalimantan hingga pesisir Jakarta. Hewan ini memiliki habitat di kepulauan, pesisir, dan hutan hujan. Elang bondol memiliki ketinggian jelajah hingga 3.000 meter dan memburu makanannya berupa ikan, reptil, dan hewan kecil lainnya. Elang ini juga menjadi maskot Jakarta.
IUCN Red list mengklasifikasikan elang bondol dalam least concern (berisiko rendah). Berdasarkan perhitungan terakhir tahun 2001, elang ini diperkirakan lebih dari 100.000 ekor di seluruh dunia. Namun, berkurangnya habitat dan kecenderungan polusi di laut menyebabkan hewan ini diperkirakan berkurang. Adapun CITES memasukkan elang bondol dalam kategori Apendiks II.
scroll
Pulau Sulawesi
scroll
Elang sulawesi
(Nisaetus lanceolatus)
Elang sulawesi adalah fauna endemik yang tersebar di Pulau Sulawesi dan sebagian Kepulauan Maluku dengan luas sebaran mencapai 512.000 kilometer persegi. Ketinggian jelajah elang ini mencapai 2.000 meter dengan habitat di hutan tropis.
scroll
Makanan elang ini meliputi burung, kadal, ular, dan mamalia kecil di hutan. Mereka memiliki warna putih dengan paruh yang hitam dengan rentang sayap mencapai 1,1-1,3 meter.
Meski IUCN Red List mengklasifikasikan elang sulawesi ke dalam least concern (berisiko rendah), populasi burung ini diperkirakan terus berkurang semenjak habitatnya hancur akibat deforestasi di Sulawesi. Dalam pengamatan terakhir pada tahun 2016, populasi mereka berkisar 670-6.700 spesies dewasa.
scroll
Elang ular sulawesi
(Spilornis rufipectus)
Burung endemik dari Pulau Sulawesi ini memiliki estimasi persebaran seluas 576.000 kilometer persegi. Ketinggian jelajah elang ular sulawesi mencapai 1.000 meter dan memiliki habitat di hutan hujan dan sabana.
scroll
Sama seperti namanya, burung ini memburu ular, reptil, dan burung-burung kecil di hutan dan semak. IUCN mengklasifikasikan hewan ini least concern (berisiko rendah) dengan status populasi stabil. Namun, CITES memasukkan elang ular sulawesi ke dalam kategori Appendiks II dan perlu pengendalian populasi agar keberadaan mereka tidak berkurang.
scroll
Indonesia Timur
scroll
Elang flores
(Nisaetus floris)
Elang flores tersebar di Kepulauan Nusa Tenggara mencakup Flores, Lombok, Sumbawa, dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Elang ini hidup di kawasan hutan dengan ketinggian jelajah hingga 1.600 meter. Selain pulau-pulau besar, burung ini beberapa kali tertangkap kamera di kawasan bakau Pulau Komodo.
scroll
Sang pemburu dinyatakan terancam kritis (critically endangered) dari IUCN Red List tahun 2016 dengan jumlah populasi dewasa hanya 100-240 ekor. Persebaran hewan ini (EOO) hanya 85.900 kilometer persegi. Tren populasi hingga saat ini belum teridentifikasi, tetapi diprediksi menurun seiring berkurangnya hutan di kawasan tersebut.
Berdasarkan IUCN, total populasi diperkirakan kurang dari 100 pasang. Setidaknya ada 20 pasang berada di Pulau Alor bersama 40 individu dewasa lainnya. Estimasi total dari satwa langka ini berkisar 100-240 elang dewasa dengan spesies total 150-360 ekor elang secara keseluruhan.
scroll
Rajawali papua
(Harpyopsis novaeguineae)
Burung pemburu dari ujung timur Indonesia ini hanya berjumlah 2.500-9.999 ekor di alam. Persebaran total elang ini mencapai 1,2 juta kilometer persegi atau seantero Pulau Papua, dari Provinsi Papua Barat, Papua, hingga wilayah negara tetangga Papua Niugini.
scroll
Di samping hewan-hewan kecil, seperti tikus, ular, dan reptil lainnya, elang papua memangsa babi dan anjing. Ketinggian jelajah ini mencapai 2.000 meter. Habitat alami burung ini adalah hutan hujan, sabana, dan semak-semak.
IUCN Red List mengklasifikasikan elang papua ke dalam ketegori rentan (vulnerable). Hewan ini kerap diburu sebagai hiasan perangkat adat sehingga populasinya semakin menurun. Keadaan ini diperparah dengan berkurangnya lahan akibat fungsi lahan.
scroll
"Sang Pemburu"
yang Terus Diburu
Masuk

Kerabat Kerja

Penulis: Tatang Mulyana Sinaga, Abdullah Fikri Ashri, Machradin Wahyudi Ritonga, Cornelius Helmy | Penyelaras Bahasa: Lucia Dwi Puspita Sari | Desainer Grafis: Ningsiawati | Audio: Vincentzo Calviny Joski | Desainer & Pengembang: Yulius Giann, Elga Yuda Pranata | Produser: Sri Rejeki

Suka dengan tulisan yang Anda baca?

Nikmati tulisan lainnya dalam rubrik Tutur Visual di bawah ini.